Senin, 12 Oktober 2009

Indonesian Economic System

NAMA:Wincent Octavianus
NIM :2007110132




BACKGROUND

Tahun ini mungkin tahun paling buruk bagi ekonomi global sejak perang dunia ke 2,yang menurut Bank dunia sudah turun sebesar 2 persen.Bahkan negara-negara berkembang yang telah menjalankan kebijakan yang benar,termasuk kebijakan mikroekonomi dan regulasi yang telah jauh lebih baik daripada amerika serikat,turut merasakan dampaknya.Akibat anjloknya ekspor yang tajam,ekonomi cina mungkin terus tumbuh,tetapi pada laju yang jauh lebih besar daripada pertumbuhan sebesar 11-12 persen setiap tahun yang dicapainya pada tahun-yahun terakhir ini.Kecuali dilakukan sesuatu,krisis ini bakal menyebabkan sebanyak 200 juta orang lagi jatuh ke dalam kemiskinan.
Krisis global ini membutuhkan respons global.Sayangnya,tanggung jawab merespons itu masih terbatas pada level nasional.Setiap negara bakal merancang paket stimulus yang membawa dampak yang terbaik kepada rakyatnya sendiri-bukan dampak global.Dalam mengukur besarnya stimulus,banyak negara bakal menyeimbangkan ongkos yang harus dipikul anggaran belanjanya sendiri dengan manfaat yang diperolehnya berupa berupa bertambahnya lapangan kerja dan meningkatnya pertumbuhan untuk ekonominya sendiri.Karena sebagian dari manfaat ini(umumnya berlaku bagi negara-negara lainnya,paket stimulusnya mungkin lebih kecil dan tidak terancang baik seperti seharusnya.Karena itulah dibutuhkan paket stimulus yang terkoordinasi secara global.


PROBLEMS-DESCRIPTION

Tahun ini pemerintah Indonesia masih akan menghadapi tantangan ekonomi yang berat terkait dengan dampak krisis global saat ini.Salah satu karakteristik yang membedakan krisis 2008 dengan tahin ini adalah sektor yang terkena imbas dari krisis global tersebut.Pada 2008,krisis global lebih banyak memberikan dampak pada sektor keuangan dan anggaran pendapatan dan belanja negara.Sektor keuangan kita jatuh karena sentimen negatif di pasar keuangan global.Sedangkan APBN kita tertekan karena tingginya harga minyak sehingga sehingga tak mampu menanggug subsidi bahan bakar minyak.
Pada tahun ini,apa yang dirasakan pada 2008 sesungguhnya telah berkurang.Pasar keuangan kita pelan-pelan mengalami rebound.Tekanan yang berasal dari harga minyak juga telah jauh berkurang.Sayangnya,harga minyak mengalami penurunan besar sekali(sempat berada di level 30$ per barel),yang justru mengurangi pendapatan APBN kita dari sisi minyak.
Pada saat ini dampak krisis ekonomi global justru memasuki fase selanjutnya,yaitu memukul sektor rill kita.Pada awal april lalu,Bani Indonesia mengeluarkan proyeksinya,di mana pada kuartal I 2009,ekonomi kita diperkirakan hanya tumbuh 4,6 persen,sedangkan departemen keuangan memproyeksikan sebesar 4,5 persen.Dari sisi pengeluaran,seluruh komponen pertumbuhan mengalami perlambatan,terutama ekspor.Ekspor kita se;ama Januari-Februari 2009 mengalami penurunan sejak september 2008.
Perkiraan penulis,hingga Agustus 2009,ekspor kita masih lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2008.Pada 2008,kita menikmati booming ekspor hingga september 2008 karena tingginya harga-harga energi serta harga komoditas lainnya.Tahun ini,meski proyeksi harga-harga tersebut akan niak,posisinya tidak akan bisa mencapai level pada 2008.
Beruntungnya,kontraksi ekpor ini tidak lebih besar dibandingkan kontraksi impornya,sehingga neraca perdagangan kita masih surplus.Proyeksi Departemen Keuangan menyebutkan,pada kuartal I 2009 ini, ekpor mengalami kontraksi atau pertumbuhan minus 6-9 persen.Angka ini menurun tajam dibandingkan dengan kinerja ekspor pada kuartal I 2008 yang tumbuh sebesar 13,6 persen.Sedangkan Impor mengalami kontraksi sebesar 8-12 persen.Data Departemen Keungan menyebutkan,pada akhir Maret,ekspor tercatat US$ 22,55 miliar.Adapun impor US4 18,578 miliar sehingga neraca perdagangan Indonesia masih surplus US$ 3,972 miliar pada kuartal I 2009.
Di sisi lain konsumsi swasta yang diharapkan dapat menjadi kompensasi atas pelemahan ekspor ternyata tidak mengalami pertumbuhan signifikan.Pada kuartal I 2009,menurut proyeksi BI,konsumsi sewasta hanya tumbuh 4,1 persen,jauh lebih rendah dibanding angka pertumbuhannya pada kuartal I sebesar 5,7 persen.Bahkan angka 4,1 persen itu pun telah ditolong oleh aktifitas ekonomi selama masa kampanye,sehingga dapat mencegah perlambatan konsumsi yang lebih dalam.Departemen Keuangan menyebutkan bahwa realisasi APBN 2009 hingga akhir maret mengalami surplus RP 2,9 TRILIUN.Surpus ini disebabkan oleh pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 162,6 triliun atau 19,2 persen dari target penerimaan,sedangkan belanja negara mencapai Rp159,7 triliun atau 16,2 persen dari target.Bila surpus ini ditambah dengan pembiayaan yang sudah front loading,saat ini pemerintah memiliki cash sebesar Rp 57 triliun yang belum terpakai.Tentunya ini perlu menjadi catatan tersendiri di tengah upaya kita menggenjot stimulus fiskal.
Salah satu hal lain yang perlu dicermati dari profil APBN 2009 adalah asumsi-asumsi APBN 2009 adalah asumsi-asumsi APBN yang dapat berimplikasi pada kebijakan yang akan diambil pemerintah.Salah satu asumsi APBN yang penting adalah terkait dengan harga minyak mentah.Dalam APBN 2009 diasumsikan bahwa harga minyak mentah dibuat di level yang rendah yaitu US$ 45 per barel.Dan sekarang kita bisa saksikan bahwa harga minyak mentah telah merambat naik dan sudah di atas US$ 50 per barel.Perkiraan penulis,harga minyak akan cenderung naik,meski dengan tren kenaikan yang lambat.
Ada beberapa alasan minyak mentah akan cenderung naik.Pertama,negara-negara penghasil minyak tidak akan membiarkan harga minyak jatuh ke level di bawah $50.Ini mengingat negara-negara penghasil minyak,terutama yang berada di Timur Tengah,memiliki ketergantungan besar pada pendapatan minyak.APBN negara Timur Tengah sebesar 80 persen disumbang dari pendapatan minyak.
Kedua,titik impas harga minyak di negara-negara Timur Tengah rata-rata sebesar US$47 per barel.Jika ternyata rata-rata harga minyak mentahnya hanya US$ 50 per barel negara-negara Timur Tengah akan mengalami budget surplus yang sangat rendah atau mungkin mengalami deficit budget.
Ketiga,sadar bahwa harga minyak mentah akan menjadi ancaman,negara-negara penghasil minyak pun melakukan pemangkasan produksi dengan cara meununda sejumlah proyek di sektor perminyakan.Tujuannya mengatrol agar harga minyak agar kembali naik.Sebagai contoh,negara-negara OPEC telah menunda sebanyak 35 dari 135 proyek perminyakan hingga 2013.Di Arab saudi,Aramco telah menunda proyek perminyakan dengan Total,Perancis dan ConocoPhilips,Amerika serikat.Kuwait juga telah membatalkan proyek refinery Al-Zour.Awalnya langkah pemangkasan produksi ini memang kurang efektif untuk mengatrol harga.Namun,study yang dilakukan sejumlah investment bankdi timur tengah menyebutkan bahwa langkah tersebut kini telah menuai hasilnya.
Apa Implikasi bila realisasi harga minyak mentah ini melesat di atas asumsi APBN?bila harga minyak mentah di atas US$ 60 per barel,semestinya perlu melihat kembnali harga BBM bersubsidi saat ini.Hanya kebijakan ini tidak akan ditempuh dalam waktu dekat ini.Paling cepat pemerintah baru bisa menaikkan harga BBM pada akhir 2009

CONCLUSION

Berkaca pada kondisi di atas,kita pun harus sadar bahwa dampak krisis global ini sudah memasuki fase yang lebih kritikal,karena terkait dengan sektor rill dan daya tahan ekonomi individu,bila angka penganguran dan kemiskinan meningkat.Karena itu,pemerintah perlu mempersiapkan dirinya dan masyarakat kita untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya situasi buruk.Melihat bahwa kinerja perekonomian hingga kuartal I 2009 yabg cenderung merosot,terlihat bahwa kebijakan pemerintah untuk memulihkan ekonomi belum berjalan efektif dan ini harus segera menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi sisa tahun 2009


REFERENSI

KOL0M EDITORIAL KORAN TEMPO 20 APRIL 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar